Selasa, 10 Januari 2012

Tak Hanya Mobil, Motor Esemka Laku 46 Unit

Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Solo ternyata tak hanya piawai membuat mobil. Mereka juga cakap dalam merakit motor. Siswa SMK Negeri 5 Solo bahkan telah merakit motor sejak tahun 2009 lalu.

Ketua Program Otomotif SMK Negeri 5 Solo, Sarman, mengatakan bahwa pihak sekolah telah bekerjasama dengan Kanzen yang merupakan produsen motor dalam negeri. Sarman menceritakan, kebisaan murid sekolahnya dalam merakit motor berawal ketika mereka dikirim ke pabrik motor Kanzen di Karawang untuk mempelajari proses perakitan motor.

“Seusai ikut pelatihan di Karawang, kami mendapatkan kesempatan merakit motor Kanzen di sekolah. Di Jawa Tengah, hanya ada dua sekolah yang melakukan perakitan motor, yakni SMKN 5 Solo dan SMK Negeri di Semarang,” jelas Sarman kepada VIVAnews di Solo, Selasa, 10 Januari 2012.

Menurutnya, para siswa SMKN 5 Solo merakit semua komponen motor di sekolah. “Kanzen hanya mengirimkan komponen-komponen yang terurai. Selanjutnya dirangkai menjadi sebuah motor. Nanti jika rakitan tersebut sudah menjadi motor, dari pihak Kanzen akan mengirimkan utusan untuk mengecek apakah motor sudah ok atau belum,” ujar Sarman.

Motor pertama yang berhasil dirakit oleh siswa adalah motor jenis bebek Auriga Esemka 100 cc pada tahun 2009. Setelah itu, disusul rakitan motor bebek Pesona 5, motor bebek trail Ultima, dan Taurus. “Untuk Auriga Esemka, para siswa merakit sebanyak 50 unit, dan sudah terjual 46 unit. Harganya sekitar Rp7 juta per unit, sedangkan harga motor Pesona 5 mencapai Rp8,5 juta per unit,” terang Sarman.

Sarman berharap, ke depannya motor rakitan siswa SMK bisa diterima oleh pasar, seperti halnya produl mobil Kiat Esemka. Menurutnya, hal itu akan semakin membuka lapangan kerja karena komponen motor itu bisa dikerjakan oleh Usaha Kecil Menengah di Solo.

Salah satu siswa perakit motor, Dede Aristanto yang merupakan siswa kelas XII jurusan otomotif SMKN 5 Solo, mengatakan bahwa pelajaran merakit motor bisa menjadi bekal berharga ketika ia lulus nanti. “Dengan pembelajaran ini, saya bisa mengerti cara-cara merakit komponen motor,” kata dia.

Dede juga berharap, produksi motor dalam negeri bisa semakin berkembang di masa mendatang. “Jika sudah berkembang, komponen-komponen lokal bisa dikerjakan oleh lulusan SMK,” kata dia. Laporan: Fajar Sodiq | Solo (adi)

Sumber : VIVAnews

2 komentar: