Jumat, 20 Januari 2012

TELUR PUYUH SEMBUHKAN ASMA DAN ALERGI ?

Telur puyuh yang digemari masyarakat Indonesia, juga disukai di luar negeri. Telur puyuh dikonsumsi bukan hanya untuk mendapatkan gizi dan kalori, bahkan seorang dokter di Perancis pernah menggunakan telur puyuh untuk obat penyakit alergi. Dokter tersebut mempraktekkan manfaat telur puyuh pada sekitar 2.000 orang pasien dari berbagai penyakit alergi.
Dokter Perancis tersebut bukanlah orang pertama penemu manfaat telur puyuh, karena bangsa Cina sudah lama menggunakannya untuk penyembuhan alergi sejak beratus-ratus tahun silam. Saat ini pemakaian telur puyuh sudah meluas. di Polandia, Vietnam dan Rusia.

Penemuan khasiat telur puyuh
Pada tahun 1963, Monsieur Cordonier, seorang Perancis pemilik restoran, terpaksa meninggalkan profesinya karena penyakit asma yang diderita isterinya sejak 10 tahun sebelumnya. Hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa isterinya itu alergi terhadap debu dan bulu anjing. Dokter yang mengobatinya menganjurkan agar mereka, pindah ke daerah pedesaan yang udaranya lebih bersih. Demi kesehatan isterinya, anjuran tersebut dipatuhinya.
Di daerah pedesaan tersebut ia membuka usaha peternakan, dan setahun kemudian karena berbagai alasan akhirnya mereka mengkhususkan beternak burung puyuh untuk diambil telurnya. Monsieur sangat bahagia setelah beternak puyuh kemudian dengan cepat istrinya sembuh dari asma, demikian pula penyakit asma yang diderita oleh seorang pegawainya juga sembuh.
Apakah ada hubungan antara kesembuhan tersebut dengan konsumsi telur puyuh? Monsieur Albert, seorang peternak puyuh lain memberikan jawaban secara "empiris" dengan melakukan percobaan terhadap penderita asma lain. Ia melakukan pengobatan selama 9 hari dengan telur puyuh mentah, tanpa memperhatikan mutu telur maupun lamanya penyakit asma yang diderita. Ternyata pengobatan itu berhasil dengan gemilang.

Obat mangkus
Pada tahun 1968 penemuan peternak tersebut diuji oleh dokter Truffier, seorang dokter umum. Setahun kemudian untuk pertama kalinya ia mengobati pasien yang alergi terhadap tepung sari bunga-bungaan (polinose). Kemudian percobaan diperluas pada penyakit alergi lainnya, dan ternyata semuanya memperoleh hasil yang positif (semua sembuh dari alergi ). Sejak itu lebih dari 2000 pasien yang menderita berbagai macam penyakit alergi berhasil disembuhkannya dan hal ini diperkuat oleh keterangan beberapa orang dokter ahli penyakit alergi.
Hal yang paling meyakinkan Dr. Truffi tersebut adalah hasil pengujiannya yang dilakukan oleh Dr.Benveniste, seorang ahli pada Inserim (Institute National de la Sante et de la Recherche Medicale). Penelitian tersebut melakukan pengujian alergi dengan menggunakan metode yang dalam bidang kedokteran dikenal uji degranulasi basofil manusian" atau dikenal dengan metode benvenistesesuai dengan nama penemunya. Uji tersebut menunjukkan hasil negatif (tidak ada lagi alergi) pada 29 dari 30 pasien, setelah diberi pengobatan dengan telur puyuh.
Dr.Truffiler selanjutnya menyimpulkan, telur puyuh lebih efektif terhadap alergi tipe I daripada dengan jenis alergi lainnya. Yang termasuk penyakit alergi tipe I tersebut antara lain asma, rhinitis (radang selaput lendir hidung) dan laringitis (radang tenggorokan) tidak musiman, pollinose (alergi bunga-bungaan yang disertai dengan rhinitis, conjungitivitas dan asma). Biduran (kaligata), syok karena suntikan penisilin, serta beberapa kelainan saluran pencernaan (oedema, muntah-muntah).

Reaksi Alergi
Reaksi alergi disebabkanoleh sesuatu zat yang disebabkan alergen, yang termasuk ke dalam golongan senyawa yang dapat menimbulkan reaksi imunologis (kekebalan). Jadi antigen dapat diibaratkan sebagai penyerang yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia, maka reaksi pertama tubuh untuk mempertahankan diri adalah reaksi "phagositoris" (penghancuran benda asing oleh suatu sel).
Dalam reaksi ini terlihat dua jenis globula darah putih yaitu neurophil dan macrophage. Senyawa yang mengalami phagositosis tersebut dikelilingi oleh suatu gelembung yang kemudian dikatabolisir oleh enzim y ang selanjutnya dibuang ke luar tubuh. Reaksi ini sering tidak efektif untuk menetralkan penyerangan tersebut, sehingga harus dilakukan suatu mekanisme pertahanan tubuh yang lebih kompleks. Mekanisme ini sangat sfesifik, yaitu dikenal sebagai reaksi imunisasi. Reaksi ini dapat melampauai tujuan utamanya dan menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan, inilah yang disebut sebagai reaksi alergi.
Reaksi alergi mengikutsertakan dua jenis globula darah putih, yaitu limfosit serta basofil darah dan ekivalensinya dalam jaringan yaitu mastosit. Limfosit yang jumlahnya sekitar 15-20 persen dari seluruh globula putih dalam darah, secara morfologis serupa tapi menurut asal dan fungsinya heterogien.

Pengobatan
Seperti yang pernah dilakukan oleh Dr.Truffier di Perancis dalam mengobati pasien yang terkena, penyakit alergi tipe I seperti tersebut di atas, dianjurkan kepada pasien yang menderita penyakit alergi supaya dalam pengobatannya dengan telur puyuh yang bersih, dan sehat (telur tidak berbau dan bewarna cerah), masih segar.
Telur puyuh yang terpilih tersebut harus dicuci dengan air bersih ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel dalam telur tersebut. Kemudian telur direbus setengah matang saja, setelah itu dapat dimakan 3 x 3 butir tiap-tiap hari selama 10 hari (minimal). Telur puyuh rebus tersebut dapat dimakan bersama nasi tiap pagi, siang dan sore. Dengan begitu, zat-zat yang ada pada telur puyuh yang bisa menghambat/ mengobati penyakit alergi masih dapat aktif bekerja.
Dengan ditemukannya telur burung puyuh sebagai obat penyakit alergi, maka diperoleh beberapa keuntungan, antara lain biaya pengobatan yang lebih murah, efek samping tidak ada, bahkan diperoleh tambahan gizi yang berupa vitamin dan mineral yang cukup tinggi dari telur tersebut. Sehingga dengan makan telur puyuh tersebut selain penyakit alerginya dapat sembuh, jiga diperoleh keadaan tubuh yang sehat karena kebutuhan gizi bisa dipenuhi.

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar